Niat-niat Sholat [PART 1]
Niat-niat Sholat Fardhu
Pernahkah kamu membayangkan membangun rumah tanpa pondasi? Pasti rumah itu tidak akan bisa berdiri, bukan? Begitu juga dengan ibadah shalat kita. Dalam Islam, niat adalah salah satu rukun shalat yang paling pertama dan utama. Sebagai sebuah rukun, niat sama sekali tidak boleh ditinggalkan atau dilewatkan. Sekalipun gerakan shalat kita sempurna dari awal sampai akhir, jika tidak diawali dengan niat, maka shalat kita tidak akan sah. Yuk, kita pelajari bersama seluk-beluk niat shalat agar ibadah kita makin mantap dan diterima oleh Allah SWT!
1. Definisi, Letak, dan Waktu Niat
Sebelum masuk ke bacaan niat, kita harus paham dulu konsep dasarnya:
Definisi: Secara bahasa, niat berasal dari bahasa arab; qashdu (قَصْدٌ ) berarti menyengaja atau bermaksud. Secara istilah fiqh, niat adalah قصد الشيء مقترنا بفعله qashdus syai’ muqtarinan bi fi’lihi (menyengaja melakukan sesuatu bersamaan dengan awal pekerjaannya).
Letak Niat: Tempat niat adalah di dalam hati. Melafalkan niat secara lisan (seperti membaca "Ushalli...") hukumnya sunnah menurut mayoritas ulama (khususnya )Mazhab Syafi'i) untuk membantu kemantapan hati, namun yang menentukan sah atau tidaknya tetaplah yang ada di dalam hati.
Waktu Pelaksanaan: Niat di dalam hati ini wajib dihadirkan bersamaan dengan mengucapkan Takbiratul Ihram (Allahu Akbar). Jadi, saat mulut mengucapkan takbir, hati kita mengingat bahwa kita sedang menyengaja shalat tertentu, berstatus fardhu/sunnah, jumlah rakaatnya dan seterusnya.
2. Niat Shalat Fardhu (Lima Waktu)
Agar lebih mudah dihafal, mari kita kelompokkan niat shalat wajib berdasarkan jumlah rakaatnya. Ingat, jika kamu shalat berjamaah, tambahkan kata Ma'muman (sebagai makmum) atau Imaman (sebagai imam) sebelum Lillahi Ta'ala.
Kelompok 4 Rakaat (Dzuhur, Ashar, Isya)
أُصَلِّي فَرْضَ الظُّهْرِ / العَصْرِ / العِشَاءِ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً (مَأْمُومًا/إِمَامًا) لِلَّهِ تَعَالَى
"Ushallii fardhadz dzuhri / ashri / 'isya'i arba’a raka’aatin mustaqbilal qiblati adaa-an (ma'muman/imaman) lillaahi ta’aalaa."
Artinya: Aku niat melakukan shalat fardhu Dzuhur / Ashar / Isya' 4 rakaat, menghadap kiblat, saat ini (sebagai makmum/imam) karena Allah Ta'ala.
Kelompok 3 Rakaat (Maghrib)
أُصَلِّي فَرْضَ الْمَغْرِبِ ثَلَاثَ رَكَعَاتٍ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً (مَأْمُومًا/إِمَامًا) لِلَّهِ تَعَالَى
"Ushallii fardhal maghribi tsalaatsa raka’aatin mustaqbilal qiblati adaa-an (ma'muman/imaman) lillaahi ta’aalaa."
Artinya: Aku niat melakukan shalat fardhu Maghrib 3 rakaat, menghadap kiblat, saat ini (sebagai makmum/imam) karena Allah Ta'ala.
Kelompok 2 Rakaat (Shubuh)
أُصَلِّي فَرْضَ الصُّبْحِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً (مَأْمُومًا/إِمَامًا) لِلَّهِ تَعَالَى
"Ushallii fardhash shubhi rak’ataini mustaqbilal qiblati adaa-an (ma'muman/imaman) lillaahi ta’aalaa."
Artinya: Aku niat melakukan shalat fardhu Shubuh 2 rakaat, menghadap kiblat, saat ini (sebagai makmum/imam) karena Allah Ta'ala.
3. Niat Shalat dalam Kondisi Tertentu
Agama Islam itu mudah dan tidak memberatkan. Ada keringanan saat kita sedang bepergian jauh (Safar) dan ada pula tata cara khusus untuk mendoakan orang yang meninggal (Shalat Jenazah).
1. Shalat Safar (Jama' dan Qashar)
A. Shalat Jama'
i. Jama' Taqdim
Menggabungkan dua shalat di waktu pertama: Dzuhur & Ashar di waktu Dzuhur dan maghrib & Isya di waktu Maghrib. Walaupun menggabungkan dua shalat, bukan berarti hanya melakukan satu shalat saja, akan tetapi tetap melaksanakan dua shalat dengan dua salam yang berbeda, hanya saja dilaksanakan di satu waktu.
Berikut niat shalat Dzuhur dan Ashar dengan jamak taqdim:
Niat sholat Dzuhur (disertai niat jama')
أُصَلِّى فَرْضَ الظُّهْرِ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ مَجْمُوْعًا بِالْعَصْرِ جَمْعَ تَقْدِيْمٍ (مَأْمُومًا/إِمَامًا) لِلهِ تَعَالَى
Artinya: Saya niat shalat fardhu Dzuhur empat rakaat dijamak bersama Ashar dengan jamak taqdim (sebagai makmum/imam) karena Allah Taala.
Niat shalat Ashar (seperti biasa)
أُصَلِّي فَرْضَ العَصْرِ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ (مَأْمُومًا/إِمَامًا) لِلَّهِ تَعَالَى
Artinya: Aku niat melakukan shalat fardhu Ashar 4 rakaat, menghadap kiblat, saat ini (sebagai makmum/imam) karena Allah Ta'ala.
Berikut niat shalat Maghrib dan Isya dengan jamak taqdim:
Niat shalat Maghrib (disertai niat jama')
أُصَلِّى فَرْضَ المَغْرِبِ ثَلَاثَ رَكَعَاتٍ مَجْمُوْعًا بِالعِشَاءِ جَمْعَ تَقْدِيْمٍ (مَأْمُومًا/إِمَامًا) لِلهِ تَعَالَى
Artinya: Saya niat shalat fardhu Maghrib tiga rakaat dijamak bersama Isya dengan jamak taqdim (sebagai makmum/imam) karena Allah Taala
Niat shalat Isya (seperti biasa)
أُصَلِّي فَرْضَ العِشَاءِ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ (مَأْمُومًا/إِمَامًا) لِلَّهِ تَعَالَى
Artinya: Aku niat melakukan shalat fardhu Isya' 4 rakaat, menghadap kiblat, saat ini (sebagai makmum/imam) karena Allah Ta'ala.
ii. Jama' Ta'khir
Menggabungkan dua shalat di waktu ke dua: Dzuhur & Ashar di waktu Ashar dan maghrib & Isya di waktu Isya'.
Meringkas shalat 4 rakaat menjadi 2 rakaat, contoh: Dzuhur:
"Ushallii fardhadz dzuhri rak'ataini qashran lillaahi ta’aalaa."
C. Jama' Qashar
Menggabung sekaligus meringkas, contoh: Dzuhur & Ashar di waktu Dzuhur:
"Ushallii fardhadz dzuhri rak'ataini qashran majmuu'an ma'al ashri jama' taqdiimin lillaahi ta’aalaa.
Shalat Jenazah (Mayit)
A. Shalat Jenazah Hadir (Jenazah ada di depan kita):
"Ushallii ‘alaa haadzal mayyiti (jika perempuan: haadzihil mayyitati) arba’a takbiiraatin fardhu kifaayatin ma'muuman lillaahi ta’aalaa."
B. Shalat Ghaib (Jenazah tidak ada di tempat/berada di kota lain):
"Ushallii ‘alal mayyitil ghaa-ibi arba’a takbiiraatin fardhu kifaayatin lillaahi ta’aalaa." (Bisa ditambahkan nama almarhum di dalam hati).